Gerakan Moral untuk BMR:
BOLAANG MONGONDOW RAYA – Berangkat dari kepedulian terhadap dinamika sosial dan kebutuhan riil masyarakat di wilayah Bolaang Mongondow Raya (BMR), sejumlah tokoh dan elemen masyarakat menggagas pembentukan Forum Aspirasi Masyarakat Bolaang Mongondow Raya (FAM-BMR) sebagai ruang penyaluran aspirasi yang lebih terarah, santun, dan konstruktif.
Inisiatif ini lahir sebagai bentuk tanggung jawab moral untuk menghadirkan wadah komunikasi rakyat yang tidak sekadar menyuarakan kritik, tetapi juga menghadirkan solusi. FAM-BMR diharapkan menjadi jembatan dialog yang sehat antara masyarakat dan para pemangku kebijakan di wilayah BMR.
FAM-BMR dirancang sebagai forum terbuka yang melibatkan seluruh elemen masyarakat, mulai dari tokoh adat, tokoh agama, pemuda, akademisi, aktivis, hingga masyarakat umum. Forum ini ditegaskan bukan untuk memperkeruh suasana ataupun mencari panggung, melainkan untuk membangun komunikasi publik yang lebih elegan dan bermartabat.
Dalam pandangan para penggagas, aspirasi merupakan hak konstitusional rakyat yang harus disampaikan dengan cara yang beradab. Oleh karena itu, FAM-BMR akan mengedepankan dialog, argumentasi berbasis data, etika komunikasi, serta pendekatan persuasif dalam setiap langkahnya. Kritik akan disampaikan dengan adab, sementara dukungan akan diberikan secara bertanggung jawab.
Adapun tujuan utama pembentukan FAM-BMR meliputi beberapa poin strategis. Pertama, menjadi wadah resmi dan terorganisir dalam penyaluran aspirasi masyarakat BMR. Kedua, mendorong lahirnya kebijakan publik yang berpihak pada kepentingan rakyat.
Ketiga, mengawal isu-isu strategis daerah secara objektif, berimbang, dan solutif. Keempat, membangun budaya partisipasi masyarakat yang cerdas, santun, dan bertanggung jawab. Kelima, memperkuat konsolidasi antar elemen masyarakat dalam semangat kebersamaan dan persatuan.
Ke depan, FAM-BMR juga akan membangun sinergi dengan pemerintah daerah, lembaga legislatif, serta unsur Forkopimda di wilayah BMR. Langkah ini dilakukan agar setiap aspirasi yang lahir dapat dikomunikasikan secara efektif dan tetap berada dalam koridor peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Sebagai bentuk penghormatan terhadap momentum spiritual dan kebersamaan, proses konsolidasi serta pematangan pembentukan FAM-BMR akan difokuskan setelah bulan suci Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Para penggagas ingin memastikan langkah awal organisasi ini dimulai dengan hati yang bersih, niat yang lurus, serta semangat persatuan yang semakin kuat pasca Idul Fitri.
Penggagas sekaligus inisiator FAM-BMR, Rahmat Mokoginta, menegaskan bahwa forum ini bukan sekadar organisasi, melainkan gerakan moral yang lahir dari niat baik untuk tujuan yang baik. “Kami ingin menghadirkan ruang perjuangan yang sejuk, inklusif, dan berorientasi solusi demi masa depan Bolaang Mongondow Raya yang lebih maju, harmonis, dan bermartabat,” ujarnya (20/02)
Dengan semangat kebersamaan dan dukungan seluruh masyarakat, FAM-BMR diharapkan dapat menjadi mitra kritis yang konstruktif dalam pembangunan daerah serta menjadi simbol aspirasi rakyat yang disampaikan dengan cara yang bermartabat.
Masyarakat BMR pun diajak untuk memberikan doa dan dukungan agar inisiatif ini dapat berjalan sesuai harapan bersama. (Idiex)














