KOTAMOBAGU – Kelangkaan gas elpiji 3 kilogram kembali terjadi di wilayah Kotamobagu di tengah pelaksanaan ibadah puasa. Kondisi ini memicu keresahan warga karena kebutuhan dapur meningkat signifikan selama bulan Ramadhan.
Sejak beberapa hari terakhir, antrean panjang terlihat di sejumlah pangkalan resmi maupun kios pengecer. Warga mengaku harus datang lebih awal agar bisa mendapatkan tabung gas bersubsidi, namun tetap saja sering kehabisan.
Sebagian warga bahkan harus berkeliling dari satu titik penjualan ke titik lainnya. Tidak sedikit yang pulang dengan tangan kosong karena stok telah habis sebelum mereka tiba di lokasi.
“Biasanya mudah didapat, tapi sekarang sulit sekali. Kami harus cari ke beberapa tempat,” ujar seorang ibu rumah tangga di Kotamobagu.
Kelangkaan ini berdampak langsung pada aktivitas rumah tangga. Gas elpiji 3 kilogram menjadi kebutuhan utama untuk memasak sahur dan berbuka, sehingga ketersediaannya sangat vital selama bulan puasa.
Selain langka, diduga harga di tingkat pengecer juga dilaporkan mengalami kenaikan. Jika sebelumnya dijual sesuai harga eceran tertinggi (HET), kini di beberapa tempat harganya naik.
Kondisi tersebut semakin memberatkan warga, terutama bagi keluarga dengan penghasilan harian. Mereka harus mengatur ulang pengeluaran demi memastikan kebutuhan makan tetap terpenuhi.
Beberapa warga memilih menggunakan kayu bakar sebagai alternatif sementara. Namun cara ini dinilai kurang praktis dan memakan waktu lebih lama, terutama saat persiapan sahur yang waktunya terbatas.
Kelangkaan gas bersubsidi ini disebut kerap terjadi menjelang dan selama hari besar keagamaan. Masyarakat berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap distribusi agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap tahun.
Warga kini mulai khawatir kelangkaan gas akan berlangsung hingga akhir Ramadhan. Kekhawatiran itu semakin terasa karena mendekati Hari Raya, banyak keluarga yang membutuhkan gas untuk membuat kue lebaran dan berbagai hidangan khas hari raya.
Bagi sebagian warga, terutama pelaku usaha kecil rumahan yang memproduksi kue, ketersediaan gas sangat menentukan kelancaran usaha mereka. Jika pasokan terus tersendat, bukan hanya kebutuhan rumah tangga yang terganggu, tetapi juga pendapatan tambahan menjelang lebaran bisa terancam.
Warga juga meminta pengawasan lebih ketat terhadap penyaluran gas agar tepat sasaran dan tidak terjadi penimbunan atau permainan harga di lapangan.
Aph di harapkan menyisir dan menindak laporan adanya pangkalan_pangkalan lpg nakal yang dengan sengaja bekerjasama dengan sejumlah pengecer nakal yang sengaja memanfaatkan momentum demi meraup keuntungan lebih ditengah kelangkaan gas LPG.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi terkait penyebab pasti kelangkaan di Kotamobagu. Masyarakat berharap pasokan segera kembali normal agar ibadah puasa dapat dijalankan dengan tenang tanpa dibayangi kekhawatiran kebutuhan dapur. (SB)














