SuaraBogani.com__Bulan Sya’ban merupakan salah satu bulan yang penuh berkah dalam kalender Hijriyah. Selain menjadi pengantar menuju bulan suci Ramadan, Sya’ban juga memiliki keistimewaan tersendiri dalam berbagai tradisi Islam, khususnya di kalangan masyarakat Muslim Indonesia, Salah satu tradisi yang masih di lestari hingga kini adalah membaca doa arwah untuk para pendahulu, yaitu mendoakan leluhur dan kerabat yang telah lebih dulu wafat.
Salah satu tradisi yang tetap di lestari hingga kini oleh sebagian masyarakat suku Mongondow Sulawesi Utara disebut Monisip, yaitu pembacaan doa arwah untuk para leluhur yang telah wafat. Tradisi ini tidak hanya sebagai sarana mengirimkan Do’a kepada para pendahulu,juga sebagai bentuk persyukuran umat muslim mongondow atas berkah Rezeki serta umur yang masih diberikan ALLAH SWT kepada mereka sehingga masih bisa dipertemukan kembali dengan Bulan Sya’ban hinnga Bulan Ramadan,,Monisip juga adalah salah satu cara mempererat hubungan silahturahmi dalam Rumpun keluarga yang masih Hidup.
Asal-Usul MONISIP dalam Masyarakat Mongondow
Monisip berasal dari bahasa Mongondow yang berarti “Menyelipkan” ini sudah ada sejak Islam masuk ke wilayah kerajaan Bolaang Mongondow pada akhir abad ke-19, di mana ajaran Islam mulai di adaptasi dan menyatu kedalam kearifan lokal suku Mongondow.
Pada awalnya, masyarakat Mongondow memiliki kebiasaan mengadakan ritual penghormatan kepada leluhur dengan berbagai bentuk persembahan makanan. Namun, setelah Islam berkembang di wilayah Kerajaan Bolaang Mongondow, kebiasaan tersebut bertransformasi menjadi doa bersama yang lebih sesuai dengan ajaran Islam. MONISIP pun menjadi praktik umum setiap memasuki bulan Sya’ban, terutama menjelang malam Nisfu Sya’ban.
MONISIP biasanya dilaksanakan secara kolektif di rumah keluarga tertentu, masjid,musholah, atau tempat berkumpul lainnya. Acara ini melibatkan beberapa tahapan antara lain:
• Pembacaan Surat Yasin – Surat Yasin sering dibaca sebagai doa utama untuk orang yang telah meninggal, karena diyakini dapat memberi syafaat bagi mereka di alam kubur.
• Pembacaan Tahlil – Tahlil adalah rangkaian dzikir yang terdiri dari bacaan kalimat tauhid (La ilaha illallah) dan seterusnya..
• Doa untuk Arwah – Dipimpin oleh seorang ustaz atau tokoh agama, doa dipanjatkan agar arwah para pendahulu mendapatkan rahmat dan ampunan dari Allah SWT serta diberikan tempat sebaik-baik tempat disisi-NYA.
• Pembagian Sedekah – Sebagai bagian dari tradisi, keluarga yang mengadakan doa arwah (MONISIP) sering berbagi makanan atau bingkisan kepada Rumpun keluarga yang hadir. Hal ini dilakukan sebagai bentuk sedekah dan amal jariyah yang pahalanya diniatkan untuk almarhum/almarhummah.
Monisip di bulan Sya’ban dipercaya sebagai salah satu bentuk penghormatan kepada mereka yang telah lebih dahulu meninggalkan dunia. Dalam ajaran Islam, mendoakan orang yang telah meninggal termasuk amalan yang sangat dianjurkan, karena doa dari orang yang masih hidup dapat menjadi cahaya dan pelipur bagi mereka di alam barzakh.
Rasulullah SAW pernah bersabda:
“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan doa anak yang saleh.” (HR. Muslim).
Hadis ini mengajarkan bahwa doa dari keturunan yang masih hidup dapat memberikan manfaat bagi orang yang telah wafat. Oleh karena itu, membaca doa arwah (monisip), terutama di bulan Sya’ban, menjadi tradisi yang dipertahankan oleh sebagian umat Muslim Mongondow sebagai bentuk kasih sayang kepada para leluhur mereka.
Mengapa di Bulan Sya’ban?,,Bulan Sya’ban memiliki keistimewaan tersendiri dalam Islam. Salah satu malam yang sangat dinanti di bulan ini adalah Lailatul Bara’ah atau Nisfu Sya’ban, yang jatuh pada pertengahan bulan. Pada malam tersebut, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak ibadah, termasuk membaca doa untuk diri sendiri dan orang yang telah meninggal.
Diriwayatkan dalam sebuah hadis:
“Allah turun ke langit dunia pada malam Nisfu Sya’ban dan mengampuni hamba-hamba-Nya kecuali orang yang musyrik dan orang yang bermusuhan.” (HR. Ibnu Majah).
Momentum inilah yang dimanfaatkan oleh masyarakat Muslim Mongondow untuk menggelar doa arwah (MONISIP) sebagai bentuk harapan agar arwah leluhur mendapatkan ampunan dan diterima amal kebaikannya disisi ALLAH SWT..
Membaca doa arwah ( MONISIP ) di bulan Sya’ban merupakan tradisi yang telah lama mengakar dalam kehidupan masyarakat Muslim Mongondow. Selain sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur, tradisi ini juga menjadi pengingat bagi umat Islam akan pentingnya amal ibadah dan doa yang terus mengalir meskipun seseorang telah tiada.
Dengan melestarikan tradisi MONISIP,, umat Muslim Mongondow tidak hanya menjaga kearifan lokal, tetapi juga memperkuat ikatan kekeluarga dan mengajak semua rumpun keluarga yang hadir untuk meningkatkan keimanan mereka masing-masing kepada Allah SWT sebelum memasuki Bulan Suci Ramadan hingga sepanjang sisa hidup mereka …
Semoga doa-doa yang dipanjatkan dalam tradisi MONISIP senantiasa menjadi wasilah bagi arwah para pendahulu agar mendapatkan tempat terbaik di sisi ALLAH SWT…














