• Hubungi Kami
  • Info Iklan
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Tentang Kami
  • Hak Jawab
Senin, Agustus 17, 2026
SuaraBogani.com
  • Login
  • Beranda
  • Berita
  • Daerah
  • Hukrim
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Daerah
  • Hukrim
No Result
View All Result
SuaraBogani.com
No Result
View All Result
Home Berita

Ditengah Gempuran Minuman Kekinian, Dina Munawaroh Memilih Merawat Warisan Leluhur Lewat Empon-Empon

by Redaksi
Agustus 17, 2026
in Berita
Ditengah Gempuran Minuman Kekinian, Dina Munawaroh Memilih Merawat Warisan Leluhur Lewat Empon-Empon
0
SHARES
1
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Suarabogani.com,TONDANO— Di tengah menjamurnya minuman kekinian dengan beragam varian rasa, kemasan menarik, serta strategi pemasaran digital yang agresif, minuman tradisional warisan leluhur perlahan menghadapi tantangan untuk tetap dikenal generasi muda. Di tengah tren kopi modern, boba, soda hingga minuman rasa buah, masih ada anak muda yang memilih kembali menggali kekayaan tradisional yang tumbuh di lingkungan sendiri.

Salah satunya adalah Dina Munawaroh, perempuan kelahiran 1998 asal Tondano. Melalui usaha Pawon Mba’ Dina, ia tidak hanya membangun bisnis kuliner, tetapi juga berupaya memperkenalkan kembali minuman tradisional melalui berbagai produk Empon-Empon Jamu.

Pilihan tersebut mungkin terlihat sederhana. Namun, di tengah perubahan selera masyarakat, mempertahankan minuman tradisional membutuhkan keberanian dan kreativitas. Tantangannya bukan hanya membuat produk yang enak, tetapi juga bagaimana membuat generasi masa kini mau mengenal, mengonsumsi dan menghargai minuman yang sejak dahulu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.

Perjalanan Dina bersama Pawon Mba’ Dina bermula pada 2018, ketika dirinya masih duduk di semester lima Universitas Negeri Manado (Unima). Saat itu, ia secara iseng mengunggah foto sayur botok daun ganemo buatan sang mama ke Facebook. Respons positif dari warganet kemudian mendorongnya mencoba berjualan melalui media sosial untuk membantu memenuhi kebutuhan ongkos kuliah sehari-hari.

Usaha tersebut dijalankan sambil kuliah. Dina harus membagi waktu antara aktivitas akademik dan berdagang. Namun, perjalanan usahanya sempat terhenti sekitar satu setengah tahun karena ia memilih fokus menyelesaikan penelitian dan pendidikan S-1, yang juga bertepatan dengan masa pandemi Covid-19.

Setelah menyelesaikan pendidikan dan meraih gelar Sarjana Sains (S.Si) bidang Biologi dari Universitas Negeri Manado, semangat membangun usaha kembali tumbuh. Pada November 2022, Pawon Mba’ Dina kembali dikembangkan dengan visi yang lebih besar, bukan sekadar sebagai usaha tambahan penghasilan, tetapi sebagai bisnis yang memiliki identitas dan produk yang dapat terus dikembangkan.

Salah satu pilihan menarik Dina adalah mengembangkan Empon-Empon Jamu. Di tengah kuatnya tren minuman kekinian, ia justru memilih bahan-bahan tradisional. Pawon Mba’ Dina kini memiliki sejumlah varian, seperti Beras Kencur, Wedang Jahe Gula Aren, Kunyit Asem, Kunyit Putih, Gepyokan, Sambiloto Brotowali dan Temulawak.

Nama-nama tersebut sangat akrab bagi generasi terdahulu, tetapi belum tentu menjadi pilihan utama sebagian generasi muda. Karena itu, Dina ingin membuktikan bahwa minuman tradisional juga dapat memiliki tempat di pasar modern. Menurut semangat yang dibangunnya, bahan tradisional tidak harus identik dengan kemasan lama, resep warisan tidak harus berhenti di dapur rumah, dan jamu tidak harus selalu dipandang sebagai minuman kuno.

Justru dengan pengemasan, branding dan pemasaran yang lebih modern, produk tradisional dapat diperkenalkan kembali dengan cara yang lebih dekat dengan kehidupan generasi sekarang. Teknologi yang selama ini dianggap dapat menjauhkan anak muda dari tradisi justru dimanfaatkan Dina sebagai sarana untuk membawa tradisi kembali ke ruang publik.

Perjalanan tersebut juga diperkuat dengan berbagai pengalaman pengembangan kapasitas usaha. Dina mengikuti Digital Entrepreneurship Academy (DEA) Kominfo sebanyak dua kali pada 2021. Ia juga menjadi alumni WUBI 2023, program pembinaan wirausaha yang merupakan bagian dari pengembangan UMKM Bank Indonesia di Sulawesi Utara dan kemudian berkembang dengan nomenklatur program WANUA. Pengalaman tersebut memperluas wawasannya tentang digitalisasi, pemasaran, kapasitas usaha dan daya saing.

Dalam menjalankan Pawon Mba’ Dina, Dina juga terbiasa mengerjakan berbagai pekerjaan sekaligus. Ia dapat berperan sebagai pemilik usaha, mengurus dapur, menjadi chef, admin, kasir, membuat konten, melakukan copywriting hingga mengantarkan pesanan kepada pelanggan. Semua dijalani dari bawah dengan ketekunan dan kemauan untuk terus belajar.

Persaingan usaha pun tidak membuatnya berhenti. Ketika muncul pelaku usaha lain dengan menu serupa, termasuk sayur urap yang menjadi salah satu menu andalan Pawon Mba’ Dina, Dina memilih menjadikannya sebagai bahan evaluasi. Baginya, semakin banyak pelaku usaha di pasar yang sama berarti semakin besar pula tuntutan untuk meningkatkan kualitas, mengembangkan produk, memperbaiki pelayanan dan memperkuat identitas usaha.

Lebih jauh, perjuangan Dina bukan sekadar tentang menjual makanan dan minuman. Ada kekhawatiran yang lebih besar, yakni jangan sampai generasi muda mengenal berbagai minuman modern tetapi tidak lagi mengenal beras kencur, kunyit asem, temulawak, jahe gula aren, gepyokan, kunyit putih maupun racikan sambiloto dan brotowali. Sebab, minuman tersebut merupakan bagian dari pengetahuan kuliner tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Perjalanan Dina bahkan memiliki akar yang kuat dari keluarga. Sebuah foto sayur ganemo buatan sang mama pada 2018 menjadi pintu awal perjalanan panjangnya sebagai pengusaha. Kini, bertahun-tahun kemudian, ia kembali membawa sesuatu yang berasal dari dapur tradisional ke dalam dunia bisnis modern. Pawon Mba’ Dina menjadi ruang pertemuan antara resep lama dan kemasan baru, antara warisan keluarga dan kreativitas anak muda.

Di tengah derasnya arus minuman kekinian, Dina memilih untuk tidak sepenuhnya hanyut. Ia justru mengambil sesuatu yang sudah lama hidup di tengah masyarakat, kemudian mengemas dan memperkenalkannya kembali agar tetap memiliki tempat di zaman sekarang. Dari Tondano, Dina Munawaroh sedang melakukan langkah sederhana namun berarti: menjual empon-empon, memperkenalkan kembali minuman tradisional, sekaligus menjaga agar warisan rasa leluhur tidak berhenti hanya sebagai cerita.

Sebab melestarikan tradisi tidak selalu berarti mempertahankannya dalam bentuk lama. Terkadang, tradisi justru dapat diselamatkan dengan cara membuatnya kembali relevan bagi generasi baru. Dan ketika anak muda mulai meninggalkan tradisi, dibutuhkan pula anak muda yang berani membawanya kembali. (Idiex)

 

Tags: #AnakMudaBerwirausaha#BanggaProdukLokal#DinaMunawaroh#EmponEmpon#JamuIndonesia#JamuTradisional#KulinerTondano#LestarikanJamu#MinumanTradisional#PawonMbaDina#ProdukLokal#UMKMMinahasa#UMKMSulawesiUtara#UMKMTondano#WarisanLeluhur
Previous Post

Urban Digi Fest 2026 Hadirkan Pelaku UMKM dan Industri Kreatif Sulut, Dua Pembicara Nasional Jadi Magnet Pengunjung

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Setahun Belum Ada Tersangka, YLBH BI Dampingi Korban Dugaan Cabul Secara Pro Bono, Keluarga Soroti Penanganan Polres Kotamobagu

Setahun Belum Ada Tersangka, YLBH BI Dampingi Korban Dugaan Cabul Secara Pro Bono, Keluarga Soroti Penanganan Polres Kotamobagu

Juli 20, 2026
Dukungan Menguat, Bolaang Mongondow Raya Makin Dekat Jadi Provinsi

Dukungan Menguat, Bolaang Mongondow Raya Makin Dekat Jadi Provinsi

Mei 8, 2025
Wali Kota Kotamobagu dan Bupati Bolmong Bertemu Menteri UMKM RI, Bahas Penguatan Ekonomi

Wali Kota Kotamobagu dan Bupati Bolmong Bertemu Menteri UMKM RI, Bahas Penguatan Ekonomi

Mei 14, 2025
Kripik Azzahra Mendapat Kunjungan Komisi ll DPRD Provinsi Sulawesi Utara

Kripik Azzahra Mendapat Kunjungan Komisi ll DPRD Provinsi Sulawesi Utara

Februari 4, 2025
Aurel Kerap Dibully, Atta Halilintar Ingatkan Bijak dan Tak Kejam untuk Membalas

Aurel Kerap Dibully, Atta Halilintar Ingatkan Bijak dan Tak Kejam untuk Membalas

Dua Faktor Utama Kenaikan Harga Rica di Kotamobagu

Dua Faktor Utama Kenaikan Harga Rica di Kotamobagu

Kotamobagu Raih Piala Adipura ke-10: Pengakuan atas Dedikasi Lingkungan

Kotamobagu Raih Piala Adipura ke-10: Pengakuan atas Dedikasi Lingkungan

Tim Resmob Polres Kotamobagu Berhasil Ungkap Kasus Pencurian Uang Tunai Rp. 76 Juta

Tim Resmob Polres Kotamobagu Berhasil Ungkap Kasus Pencurian Uang Tunai Rp. 76 Juta

Ditengah Gempuran Minuman Kekinian, Dina Munawaroh Memilih Merawat Warisan Leluhur Lewat Empon-Empon

Ditengah Gempuran Minuman Kekinian, Dina Munawaroh Memilih Merawat Warisan Leluhur Lewat Empon-Empon

Agustus 17, 2026
Urban Digi Fest 2026 Hadirkan Pelaku UMKM dan Industri Kreatif Sulut, Dua Pembicara Nasional Jadi Magnet Pengunjung

Urban Digi Fest 2026 Hadirkan Pelaku UMKM dan Industri Kreatif Sulut, Dua Pembicara Nasional Jadi Magnet Pengunjung

Agustus 16, 2026
Dua Perkara Berbeda, Satu Rangkaian Konflik: Praperadilan S.M. Soroti Proses Hukum dan Nasib Laporan Adiknya

Dua Perkara Berbeda, Satu Rangkaian Konflik: Praperadilan S.M. Soroti Proses Hukum dan Nasib Laporan Adiknya

Agustus 16, 2026
Aceh Memanas! Lambang Garuda Dilecehkan, Merah Putih Diturunkan dan Diganti Bendera Bulan Bintang

Aceh Memanas! Lambang Garuda Dilecehkan, Merah Putih Diturunkan dan Diganti Bendera Bulan Bintang

Agustus 16, 2026

Recent News

Ditengah Gempuran Minuman Kekinian, Dina Munawaroh Memilih Merawat Warisan Leluhur Lewat Empon-Empon

Ditengah Gempuran Minuman Kekinian, Dina Munawaroh Memilih Merawat Warisan Leluhur Lewat Empon-Empon

Agustus 17, 2026
1
Urban Digi Fest 2026 Hadirkan Pelaku UMKM dan Industri Kreatif Sulut, Dua Pembicara Nasional Jadi Magnet Pengunjung

Urban Digi Fest 2026 Hadirkan Pelaku UMKM dan Industri Kreatif Sulut, Dua Pembicara Nasional Jadi Magnet Pengunjung

Agustus 16, 2026
89
Dua Perkara Berbeda, Satu Rangkaian Konflik: Praperadilan S.M. Soroti Proses Hukum dan Nasib Laporan Adiknya

Dua Perkara Berbeda, Satu Rangkaian Konflik: Praperadilan S.M. Soroti Proses Hukum dan Nasib Laporan Adiknya

Agustus 16, 2026
26
Aceh Memanas! Lambang Garuda Dilecehkan, Merah Putih Diturunkan dan Diganti Bendera Bulan Bintang

Aceh Memanas! Lambang Garuda Dilecehkan, Merah Putih Diturunkan dan Diganti Bendera Bulan Bintang

Agustus 16, 2026
24
SuaraBogani.com

© 2024 Suara Bogani

Navigate Site

  • Hubungi Kami
  • Info Iklan
  • Redaksi
  • Kode Etik
  • Tentang Kami
  • Hak Jawab

Follow Us

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Berita
  • Daerah
  • Hukrim

© 2024 Suara Bogani

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
This website uses cookies. By continuing to use this website you are giving consent to cookies being used. Visit our Privacy and Cookie Policy.