SuaraBogani.com__ Setelah dua pekan konflik terbuka yang mengguncang Timur Tengah, Iran dan Israel akhirnya memasuki fase baru yang ditandai dengan gencatan senjata yang rapuh. Rentetan serangan udara, rudal balistik, serta manuver intelijen memuncak hingga 24 Juni 2025. Namun sejak 26 Juni, arah konflik mulai bergeser dari medan tempur ke medan diplomasi—meski ancaman dan ketegangan belum sepenuhnya reda.
Ayatollah Ali Khamenei, Pemimpin Tertinggi Iran, muncul untuk pertama kalinya sejak dimulainya gempuran udara Israel. Dalam pidatonya pada 26 Juni, ia menyatakan bahwa Iran telah memberikan “tamparan keras” kepada Amerika Serikat dan Israel. Ia juga menegaskan bahwa Republik Islam tidak akan tunduk pada tekanan asing. Pada hari yang sama, parlemen Iran secara resmi memutuskan untuk menghentikan kerja sama dengan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), sebuah langkah yang menandakan sikap semakin tertutup terhadap pengawasan program nuklir.
Serangan militer Israel dan sekutunya antara 13 hingga 24 Juni menghancurkan fasilitas nuklir penting Iran, termasuk situs di Fordow, Esfahan, dan Natanz. Menurut data resmi pemerintah Iran, sebanyak 606 orang tewas dan lebih dari 5.300 lainnya luka-luka, termasuk ilmuwan nuklir, anggota militer, serta warga sipil. Di tengah proses pemulihan, tenda-tenda darurat dan kendaraan militer mulai terlihat di lokasi yang hancur, menandakan Iran tengah mempercepat perbaikan fasilitas penting.
Sebelum serangan besar-besaran, agen intelijen Israel diduga telah menjalankan operasi sabotase secara sistematis. Berbagai laporan menyebutkan penggunaan drone rahasia dan infiltrasi ke dalam sistem pertahanan udara Iran. Hasilnya, banyak peluncur rudal Iran lumpuh bahkan sebelum dapat digunakan sebagai pertahanan.
Sejak dimulainya konflik, ketegangan dalam negeri Iran meningkat drastis. Sekitar 100.000 warga dilaporkan meninggalkan kota Tehran untuk mencari perlindungan di wilayah utara Iran. Seiring meredanya serangan, penerbangan domestik mulai kembali beroperasi, meski infrastruktur listrik dan air masih terganggu. Di sisi lain, otoritas Iran meluncurkan gelombang penangkapan besar-besaran. Sedikitnya 700 orang ditahan karena dituduh sebagai mata-mata atau simpatisan Israel. Beberapa laporan menyebut eksekusi telah mulai dilakukan terhadap tersangka dengan dakwaan pengkhianatan negara.
Ketegangan tak hanya terjadi antara Iran dan Israel. Pada 23 Juni, Iran menyerang pangkalan militer AS di Al-Udeid, Qatar, dengan rudal balistik. Meski sebagian besar berhasil dicegat, aksi ini memperlihatkan niat Iran untuk memperluas jangkauan konfliknya. Kelompok Houthi di Yaman juga dilaporkan ikut meluncurkan rudal ke wilayah Beer Sheva, Israel, pada 28 Juni, namun berhasil digagalkan oleh sistem pertahanan udara Israel. Sementara itu, Arab Saudi dan beberapa negara Arab lainnya disebut secara diam-diam membantu mencegat rudal Iran. Namun, mereka tetap menjaga posisi netral secara diplomatik di depan publik.
Pasca gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat dan Qatar, upaya diplomatik mulai terlihat. Iran menolak pembicaraan langsung di Oman, namun laporan terakhir menyebut bahwa negosiasi terkait program nuklir akan kembali dibuka dalam waktu dekat. Amerika Serikat telah menyusun beberapa tuntutan utama: penghentian pengayaan uranium tingkat tinggi, pembatasan pengembangan rudal balistik, dan transparansi penuh terhadap fasilitas nuklir Iran. Sebagai imbalannya, Iran dikabarkan akan ditawari pencabutan sebagian sanksi ekonomi dan bantuan kemanusiaan.
Meski meriam sudah berhenti berbunyi dan langit di atas Tehran tak lagi dipenuhi suara jet tempur, perang antara Iran dan Israel belum benar-benar berakhir. Saat ini, kedua negara tengah memainkan babak baru: adu strategi, tekanan diplomatik, dan propaganda.














