Suarabogan.com_ PT Bank SulutGo (BSG) menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) dan Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB) dengan agenda utama membahas kinerja keuangan tahun buku 2024 serta penetapan susunan pengurus manajemen baru. Rapat yang berlangsung di Manado ini menjadi sorotan karena sejumlah keputusan strategis diambil untuk memperkuat posisi BSG ke depan.
RUPS kali ini dipimpin langsung oleh dua Pemegang Saham Pengendali (PSP), yakni Gubernur Provinsi Sulawesi Utara Mayjen TNI (Purn) Yulius Selvanus dan PT. Mega Corpora. PT. Mega Corpora resmi menjadi PSP kedua setelah BSG tergabung dalam Kelompok Usaha Bank (KUB) Permodalan Bank Mega, menandai babak baru dalam perjalanan transformasi BSG sebagai bank pembangunan daerah yang modern dan kompetitif.
Selain dihadiri oleh Gubernur Sulawesi Utara, rapat juga dihadiri Gubernur Gorontalo, para bupati dan wali kota dari kedua provinsi, serta perwakilan dari Koperasi Karyawan (Kopkar) BSG. Keterlibatan penuh para pemegang saham daerah ini menunjukkan soliditas dukungan terhadap langkah-langkah strategis yang diambil oleh manajemen BSG.
Dalam sambutannya, Gubernur Yulius Selvanus menegaskan komitmennya untuk mendukung penuh BSG agar terus bertumbuh dan memberikan kontribusi signifikan dalam pembangunan daerah. Ia bahkan menyatakan kesiapannya menjadi “marketing” bagi BSG demi memperluas jangkauan dan peran bank tersebut di seluruh sektor pemerintahan daerah.
“Saya siap menjadi marketing untuk BSG. Saya juga meminta agar seluruh rekanan pemerintah daerah mewajibkan pengelolaan keuangan melalui BSG. Sesuai peraturan Menteri Keuangan, RKUD harus disimpan di BSG sebagai Bank Pembangunan Daerah,” tegas Yulius. (09/04)
Salah satu isu utama dalam RUPS adalah pembahasan status BSG dalam KUB PT. Mega Corpora. Dalam forum tersebut disepakati bahwa keikutsertaan BSG dalam KUB hanya bersifat sementara hingga pemenuhan modal inti sebesar Rp3 triliun tercapai. Setelah itu, BSG akan keluar dari KUB dan beroperasi secara mandiri sebagai bank daerah yang kuat secara permodalan.
Para pemegang saham juga menyepakati tenggat waktu pemenuhan modal inti sebesar Rp3 triliun tersebut paling lambat delapan tahun ke depan. Komitmen kolektif ini menjadi langkah penting dalam memperkuat struktur permodalan dan memperluas ruang gerak BSG dalam menghadapi dinamika industri perbankan nasional.
RUPS-LB kemudian mengesahkan susunan baru Dewan Komisaris BSG, yaitu Ramoy Markus Luntungan sebagai Komisaris Utama, Max Kembuan sebagai Komisaris, serta Sam Sachrul Mamonto, Jacklyn Koloay, dan Djafar Alkatiri sebagai Komisaris Independen. Susunan ini diharapkan dapat menghadirkan pengawasan dan arah strategis yang lebih tajam bagi manajemen perusahaan.
Dengan langkah-langkah strategis yang telah disepakati dalam RUPS dan RUPS-LB ini, BSG menatap masa depan dengan optimisme tinggi. Transformasi manajemen dan penguatan modal menjadi fondasi penting untuk menjadikan BSG sebagai bank daerah yang sehat, kompetitif, dan berdaya saing tinggi di level nasional. ***














