SuaraBogani.com__ 1 Maret 2025 – Industri tekstil di Indonesia mengalami pukulan besar dengan diumumkannya penutupan pabrik PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sirtex) pada tanggal 1 Maret 2025. Keputusan ini menyebabkan 10.669 karyawan terdampak Pemutusan Hubungan Kerja (PHK), yang meninggalkan kesedihan mendalam di kalangan pekerja dan keluarga mereka. Pengumuman tersebut disampaikan langsung oleh Direktur Utama Iwan Kurniawan Lukminto dalam sebuah acara yang dipenuhi dengan suasana haru di pabrik utama Sirtex di Solo, Jawa Tengah.

Dalam sambutannya yang penuh emosi, Iwan Kurniawan Lukminto mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan yang mendalam terhadap para karyawan yang telah bekerja selama lebih dari dua dekade bersama perusahaan. “Kalau dihitung, para karyawan ini sudah bersama selama 21.382 hari sejak Sri Rejeki Isman Tbk berdiri pada 16 Agustus 1966,” ujar Iwan dengan suara yang bergetar, menahan haru. “Kami menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya atas dedikasi mereka selama ini. Kami tahu keputusan ini sangat berat, namun inilah kenyataan yang harus kami hadapi.”
PT Sri Rejeki Isman Tbk atau yang lebih dikenal dengan nama Sirtex, adalah salah satu perusahaan tekstil terbesar di Indonesia. Didirikan pada tahun 1966 oleh Iwan Lukminto, perusahaan ini telah menjadi salah satu pemimpin industri tekstil dengan produk yang diekspor ke berbagai negara. Sirtex memproduksi berbagai jenis kain dan produk tekstil, serta telah membangun jaringan yang luas di pasar internasional.
Sirtex tidak hanya dikenal sebagai produsen tekstil, tetapi juga sebagai perusahaan yang memiliki peran penting dalam memberikan lapangan pekerjaan bagi ribuan orang. Selama lebih dari lima dekade, perusahaan ini telah berkembang pesat dan menjadi simbol kebanggaan bagi industri tekstil Indonesia. Namun, meski memiliki sejarah panjang yang gemilang, Sirtex terpaksa menutup pabriknya karena sejumlah tantangan ekonomi yang semakin berat dalam beberapa tahun terakhir.
Penutupan pabrik Sirtex pada 1 Maret 2025 merupakan dampak dari berbagai faktor yang telah menggerogoti kestabilan perusahaan. Salah satu faktor utama adalah tekanan ekonomi global yang memengaruhi industri tekstil, ditambah dengan fluktuasi harga bahan baku dan biaya produksi yang semakin tinggi. Selain itu, persaingan yang semakin ketat dengan perusahaan-perusahaan luar negeri serta perubahan permintaan pasar yang tidak dapat diprediksi menjadi faktor penyebab lain yang memaksa perusahaan untuk mengambil langkah berat ini.
Pada saat yang sama, sektor tekstil Indonesia juga menghadapi tantangan berat akibat penerapan kebijakan impor yang semakin sulit dijangkau, serta ketidakpastian ekonomi domestik. Meskipun Sirtex telah berusaha melakukan efisiensi dan diversifikasi produk, kondisi pasar yang terus berubah memaksa perusahaan untuk menyesuaikan diri dengan realitas yang ada.
Iwan Kurniawan Lukminto menjelaskan bahwa penutupan ini adalah langkah yang sangat sulit bagi manajemen, karena perusahaan ini telah menjadi bagian dari kehidupan banyak orang. “Keputusan ini bukanlah keputusan yang mudah. Kami sangat memahami betapa beratnya bagi para karyawan yang telah mengabdi selama bertahun-tahun. Mereka adalah keluarga besar Sirtex yang telah memberikan kontribusi besar terhadap kesuksesan perusahaan selama ini,” ungkapnya.

Sebanyak 10.669 karyawan yang terancam PHK ini tentu merasakan dampak yang sangat besar. Banyak dari mereka yang sudah bekerja selama bertahun-tahun, bahkan beberapa di antaranya telah mengabdi lebih dari 20 tahun. Bagi mereka, penutupan pabrik ini bukan sekadar kehilangan pekerjaan, tetapi juga kehilangan bagian dari hidup mereka yang telah berjalan beriringan dengan perjalanan perusahaan.
Di tengah suasana haru, para karyawan yang hadir dalam acara pengumuman tersebut tidak dapat menahan air mata. Beberapa di antaranya terlihat berpelukan, sementara yang lainnya tampak terdiam dengan wajah penuh kebingungan dan ketidakpastian tentang masa depan mereka. Suasana emosional semakin memuncak ketika beberapa karyawan mengingat kembali perjalanan panjang mereka bersama Sirtex.
“Ini sangat sulit. Kami sudah bersama perusahaan ini hampir seumur hidup kami. Banyak kenangan indah dan perjuangan yang kami lalui bersama. Tiba-tiba, semuanya harus berakhir,” kata salah satu karyawan yang telah bekerja selama 22 tahun di perusahaan ini. “Kami berharap ada solusi terbaik untuk kami, karena ini bukan hanya tentang pekerjaan, tetapi juga masa depan keluarga kami.”
Meskipun demikian, Iwan Kurniawan Lukminto menegaskan bahwa pihak manajemen berkomitmen untuk memberikan kompensasi yang sesuai dan membantu para karyawan yang terdampak PHK untuk memperoleh pekerjaan baru. “Kami akan memastikan bahwa para karyawan yang terkena PHK akan mendapatkan hak mereka sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Kami juga akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk memfasilitasi mereka agar bisa mendapatkan kesempatan kerja baru di tempat lain,” Tutupnya














