SuaraBogani.com__Kotamobagu, 13 Juli 2025 — Dalam suasana yang sarat makna akan kenangan, Monibi Institute kembali menjadi ruang ekspresi seni – budaya dan perenungan kolektif khususnya bagi skena musik underground di Kotamobagu lewat pergelaran yang mereka laksanakan rutin setiap bulannya. Ini adalah kegiatan seni hasil kolaborasi dengan para pentolan musisi underground di Kotamobagu mereka beri nama “Gigs Dadakan” telah memasuki volume ke-4.
Bertempat di Ruang Budaya Monibi Institute Jalan Sutoyo Kotamobagu, kegiatan kali ini tak sekadar menjadi panggung ekspresi artistik, melainkan juga altar kontemplatif bagi sahabat yang telah lebih dahulu menutup lembar hidup mereka. Para sahabat yang mereka kenang dalam skena musik underground yang eksis sejak 1999 silam dan terus berkembang.
Berlangsung pada Minggu, 13 Juli 2025, mulai pukul 19:15 Wita, Gigs Dadakan Volume 4 kali ini mengusung tema “Tribute To Our Friend; Mengenang dalam Nada, Merawat dalam Budaya” — satu bentuk sublimasi kehilangan yang menjadi karya. Dalam ranah estetika sosial, kegiatan semacam ini menjadi titik temu antara duka dan ingatan kolektif; di mana musik dan seni pertunjukan menjadi bahasa yang melampaui kata-kata.
Pergelaran ini akan diawali dengan pementasan budaya lokal oleh Monibi Institute meliputi Tari Kabela, pementasan Syair Odenon, Tarian Perang, Mongasi dan pidato kebudayaan dilanjutkan dengan performance para musisi lokal lewat band Ampowplur, Regeneration, Roombongan Sirkus, Firing Squad, LeftisJustice, Quiven, Kumpulan Masalah, Manifesto Marhaen, serta para seniman dan penggiat budaya yang mengusung semangat memorialisasi dan penghormatan. Setiap nada dan lirik yang dilantunkan bukan sekadar hiburan, tetapi bentuk perlawanan terhadap lupa.

“Kematian bukan akhir bagi mereka yang dikenang dalam karya. Gigs ini adalah cara kami mencatat mereka dalam ingatan ruang dan waktu” kata Uwin Mokodongan.
Dengan latar arsitektur ruang yang intim dan hangat, Ruang Budaya Monibi Institute tak hanya menjadi saksi, tetapi juga bagian dari narasi. Dindingnya menyimpan gema, dan lantainya merekam setiap tapak langkah para pengunjung yang datang, tak hanya sebagai penonton, melainkan peziarah kenangan.
Gigs Dadakan Volume 4 bukan hanya pergelaran; ia adalah peristiwa budaya. Ia merawat warisan emosional melalui estetika, menautkan rasa kehilangan dengan tindakan artistik, dan pada akhirnya menjadikan Monibi Institute sebagai locus dimana seni, budaya, duka, dan harapan berpadu dalam satu ruang spiritual yang kolektif.














