SuaraBogani.com__ Hubungan antara Iran dan Israel yang kini diliputi permusuhan ternyata memiliki akar sejarah yang panjang dan kompleks. Sejak era Kekaisaran Persia hingga konflik modern, kedua bangsa ini pernah berdiri sebagai sekutu sebelum akhirnya berubah menjadi musuh bebuyutan.
Pada abad ke-6 SM, Kekaisaran Persia di bawah Raja Koresh Agung dikenal sebagai pembebas bangsa Yahudi dari penawanan Babilonia. Ia bahkan mengizinkan mereka kembali ke Yerusalem dan membangun kembali Bait Suci, menjadikan Persia sebagai pelindung awal bangsa Israel kuno. Kedekatan ini terus berlanjut sepanjang masa Kekaisaran Persia, di mana komunitas Yahudi hidup dan berkembang di wilayah yang kini menjadi Iran modern.

Hubungan kembali menguat pada era pemerintahan Shah Mohammad Reza Pahlavi di abad ke-20. Iran menjadi mitra dekat Israel secara diplomatik dan ekonomi. Keduanya bekerja sama dalam proyek pipa minyak strategis dan berbagi informasi intelijen untuk menghadapi ancaman regional. Saat itu, Iran adalah salah satu negara Muslim yang mengakui eksistensi Israel secara resmi.
Namun, semua berubah drastis pasca Revolusi Islam 1979. Pemerintahan baru Iran yang dipimpin Ayatollah Khomeini memutus semua hubungan dengan Israel, menyebutnya sebagai “entitas Zionis” dan “musuh Islam”. Kedutaan Israel di Teheran diubah menjadi Kedutaan Palestina, menandai permusuhan yang hingga kini terus berlangsung.
Kini, Iran dan Israel terlibat dalam konflik tidak langsung (proxy war) di Suriah, Lebanon, dan Gaza. Iran mendukung kelompok bersenjata seperti Hizbullah dan Hamas, sementara Israel rutin melancarkan serangan udara ke posisi Iran. Keduanya juga terlibat dalam perang siber dan saling tuduh soal program nuklir.
Dari sejarah sebagai pelindung bangsa Yahudi hingga menjadi ancaman eksistensial satu sama lain, perjalanan hubungan Iran dan Israel mencerminkan betapa cepatnya perubahan dalam politik internasional bisa terjadi.














