SuaraBogani.com__ Konflik bersenjata antara Iran dan Israel bukan hanya mengancam stabilitas kawasan Timur Tengah, tetapi juga menimbulkan efek domino yang merambat ke sektor ekonomi dan bisnis global. Peluncuran ribuan drone, rudal, hingga eskalasi militer antara dua kekuatan ini membuat pasar global bergejolak.
Salah satu dampak paling nyata adalah kenaikan harga minyak dunia. Iran merupakan salah satu produsen minyak utama dunia. Jika jalur distribusi minyak dari Teluk Persia terganggu akibat perang, maka suplai energi ke banyak negara akan tersendat. Harga minyak mentah telah naik tajam sejak eskalasi dimulai, bahkan menyentuh angka lebih dari US$100 per barel.
Pasar saham di banyak negara mengalami tekanan besar. Bursa Asia, Eropa, hingga Wall Street menunjukkan tren penurunan. Investor global mulai mengalihkan dana ke aset yang dianggap lebih aman seperti emas dan obligasi negara.
Di Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar ikut terdampak akibat tekanan global. Sentimen negatif dari luar negeri membuat pelaku pasar khawatir terhadap potensi inflasi dan kenaikan harga barang impor.
Perusahaan-perusahaan multinasional yang memiliki operasional di Timur Tengah, seperti sektor energi, perbankan, dan logistik, terpaksa menghentikan aktivitas sementara demi alasan keamanan. Sektor pariwisata dan penerbangan juga terkena imbas. Banyak maskapai internasional membatalkan penerbangan ke wilayah terdampak.
Jika konflik terus berlanjut, para ahli memperingatkan kemungkinan terjadinya resesi regional, yang dapat menjalar ke ekonomi global seperti yang pernah terjadi pada krisis minyak 1979.














