SuaraBogani.com__ Ketegangan antara Iran dan Israel yang kini meledak dalam bentuk perang terbuka bukanlah konflik yang muncul dalam semalam. Perang ini merupakan akumulasi dari persaingan panjang, saling curiga, dan tindakan militer yang saling memprovokasi selama bertahun-tahun.
Penyebab utama dari konflik ini adalah kekhawatiran Israel terhadap program nuklir Iran. Meski Iran menyatakan programnya bersifat damai, Israel menuding Iran diam-diam mengembangkan senjata nuklir yang bisa mengancam keberadaan negara Yahudi itu. Akibatnya, Israel beberapa kali menyerang fasilitas nuklir Iran secara diam-diam.
Di sisi lain, Iran secara aktif mendukung kelompok-kelompok militan anti-Israel seperti Hizbullah di Lebanon, Hamas di Palestina, serta milisi di Suriah dan Irak. Kelompok-kelompok ini sering kali meluncurkan serangan ke wilayah Israel. Bagi Israel, dukungan Iran terhadap kelompok tersebut adalah bentuk agresi tidak langsung yang sangat membahayakan.
Tak hanya itu, serangan siluman seperti pembunuhan ilmuwan nuklir Iran, sabotase siber, hingga serangan udara terhadap pangkalan militer terus memperburuk situasi. Masing-masing pihak menuduh yang lain sebagai provokator utama.
Gagalnya diplomasi juga menjadi pemicu. Sejak Amerika Serikat keluar dari perjanjian nuklir Iran (JCPOA) pada 2018, hubungan antara Iran dan negara-negara Barat memburuk. Tidak adanya kesepakatan damai membuka jalan bagi solusi militer.
Kini, dunia menyaksikan konflik yang meluas dan berpotensi menimbulkan dampak global, baik secara geopolitik maupun ekonomi. Seluruh pihak internasional menyerukan deeskalasi agar ketegangan ini tidak berubah menjadi perang regional yang lebih besar.














