SuaraBogani.com__Di antara kanopi hutan yang makin menipis, hijau dan tak lagi perawan , masihlah hidup makhluk malam yang sudah jarang terlihat mata manusia. Kutoi atau beruang Sulawesi. Hewan endemik ini bukanlah beruang seperti namanya, melainkan sejenis kuskus berukuran besar yang tergolong dalam keluarga marsupial, dan hanya ditemukan di pulau Sulawesi dan sekitarnya.
Disebut Kutoi dalam Bahasa Mongondow atau Kuse penamaan umum di Sulawesi Utara ini memiliki Nama ilmiah sebagai Ailurops ursinus, ia adalah salah satu simbol kekayaan biodiversitas Indonesia Timur yang masih misterius dan kurang dikenal publik secara langsung. Tubuhnya berbulu lebat dengan warna coklat keabu-abuan, matanya besar dengan pandangan tajam di malam hari, dan pergerakannya lambat namun pasti. Ia aktif di malam hari dan menghabiskan waktunya memanjat pohon untuk mencari daun muda, buah dan bunga.

Sayangnya, keberadaan Hewan Kutoi kini semakin terancam. Perambahan hutan, penebangan liar, dan alih fungsi lahan menjadi tambang perlahan-lahan menggerus rumah alami mereka. Meski termasuk hewan dilindungi oleh hukum Indonesia Melalui UU No. 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem,,Ironisnya Perburuan masih terus terjadi dan menjadi ancaman nyata bagi hewan ini. terutama karena ketidaktahuan masyarakat tentang pentingnya peran Kutoi dalam keberlangsungan ekosistem Hutan Tropis Totabuan.
“Populasi Kutoi mengalami penurunan drastis. Dalam dua dekade terakhir sudah sangat jarang terlihat bahkan di dalam hutan. Sependek pengetahuan saya statusnya kini masuk dalam daftar hewan “Rentan” Kata Amu’ Mokoginta yang aktif dalam explore hutan Bolaang Mongondow Raya.
Meskipun hidup menyendiri dan cenderung pemalu, Kutoi memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan hutan. Dengan menyebarkan biji melalui kotorannya dan membantu penyerbukan, ia berkontribusi langsung terhadap regenerasi hutan tropis.
Kutoi adalah marsupial satu-satunya di Sulawesi. Ia bukan beruang, bukan kera, tapi masih satu keluarga dengan kangguru dan koala. Tambah Mokoginta.
Perlunya penekanan tentang pentingnya edukasi publik dan pelibatan masyarakat adat dalam menjaga kelestarian Kutoi. Sebab di beberapa wilayah, Kutoi dianggap Hewan pembawa keberuntungan, bahkan menjadi bagian dari cerita rakyat Bolaang Mongondow Raya, Kutoi kerap digambarkan sebagai makhluk penjaga malam yang dihormati. Dalam beberapa versi dongeng lisan, Kutoi bahkan dipercaya mampu menyelamatkan hutan dari kebakaran karena kesetiaannya terhadap tempat tinggalnya. Nilai-nilai kearifan lokal seperti ini seharusnya bisa dijadikan dasar penguatan pelestarian satwa langka ini di Tahnah Totabuan
Upaya konservasi harus dilakukan oleh berbagai pihak, termasuk pembentukan kawasan lindung, patroli satwa, hingga program adopsi pohon untuk habitat Kutoi.
Apa yang terjadi pada kuse adalah cerminan bagaimana kita memperlakukan alam. Ketika satu spesies punah, kita bukan hanya kehilangan makhluk hidup, tapi juga kehilangan bagian dari identitas dan warisan bangsa.
Di tengah gempuran krisis iklim dan degradasi lingkungan, menyelamatkan Kutoi bukan hanya soal konservasi, tapi soal moral. Ini adalah panggilan hati nurani untuk tidak tinggal diam melihat satu demi satu satwa endemis kita lenyap dari bumi pertiwi.
Mari Lindungi Kutoi Si Beruang penjaga malam di tanah Totabuan yang berkontribusi pada Hutan Indonesia untuk keberlanjutan Hidup kita semua..!!














