SuaraBogani.com__ Pada Juli hingga Agustus 2025, ilmuwan memperkirakan akan terjadi fenomena alam menarik yang berdampak langsung pada ritme harian Bumi: rotasi Bumi akan sedikit lebih cepat dari biasanya. Perubahan ini terjadi bukan karena gangguan besar seperti gempa atau aktivitas matahari, melainkan karena posisi Bulan yang berada di titik terjauh dari Bumi, atau disebut sebagai apoge.
Fenomena apoge terjadi ketika Bulan mencapai jarak maksimum dari Bumi dalam orbit elipsnya, yaitu sekitar 405.000 kilometer. Dalam kondisi ini, gaya gravitasi Bulan terhadap Bumi menjadi lebih lemah, termasuk efeknya dalam memperlambat rotasi harian Bumi. Akibatnya, rotasi Bumi mengalami percepatan mikro dalam skala milidetik — sebuah nilai yang tidak terasa secara langsung oleh manusia, namun cukup signifikan dalam sistem waktu presisi seperti GPS dan jam atom.
Selain memengaruhi rotasi, posisi Bulan yang lebih jauh juga berdampak pada pasang surut air laut. Karena gaya tarik Bulan lebih lemah saat apoge, maka pasang air laut tidak akan setinggi biasanya. Gelombang pasang akan tampak lebih tenang, dan surut tidak terlalu dalam. Kondisi ini dikenal sebagai pasang rendah atau neap tide. Fenomena ini penting bagi masyarakat pesisir, terutama nelayan dan pelaut, yang sangat bergantung pada pola pasang surut untuk aktivitas harian.
Meskipun percepatan rotasi Bumi ini tidak mengubah panjang hari secara drastis, ilmuwan dan badan pencatat waktu global seperti International Earth Rotation and Reference Systems Service (IERS) tetap memantau dengan ketat. Dalam beberapa kasus, penyesuaian waktu seperti penghapusan detik kabisat (leap second) mungkin diperlukan untuk menjaga kesesuaian antara waktu atom dan rotasi Bumi.
Fenomena ini kembali mengingatkan kita bahwa meskipun tampak stabil, Bumi selalu mengalami perubahan dinamis. Dari kedalaman laut hingga kecepatan rotasi, semua bergerak seiring interaksi gravitasi antara Bumi, Bulan, dan Matahari.














