SuaraBogani.com__ Ketegangan antara Israel dan Iran mencapai titik kritis setelah Israel melancarkan serangan udara besar-besaran ke berbagai fasilitas strategis di Iran pada 13 Juni 2025. Serangan yang disebut “Operation Rising Lion” ini menyasar situs nuklir Natanz dan Fordow, markas militer Garda Revolusi Iran (IRGC), hingga rumah tokoh penting militer.

Israel mengklaim langkah ini sebagai serangan pencegahan untuk menghentikan pengembangan senjata nuklir Iran yang dinilai mengancam keberadaan negara mereka. Menurut intelijen Israel, aktivitas di fasilitas nuklir Iran meningkat drastis dalam beberapa bulan terakhir.
Sebagai balasan, Iran merespons dengan meluncurkan lebih dari 150 rudal dan 100 drone ke wilayah Israel pada malam harinya. Beberapa rudal berhasil menembus sistem pertahanan Israel dan menyebabkan korban jiwa di Tel Aviv dan sekitarnya. Iran menyebut operasi balasan ini sebagai “True Promise III” dan menegaskan bahwa ini baru permulaan.
Penyebab utama ketegangan ini adalah kekhawatiran Israel terhadap potensi Iran memiliki bom nuklir, diperburuk oleh kegagalan diplomasi dalam perjanjian nuklir (JCPOA), serta aktivitas militer Iran melalui kelompok proksi seperti Hizbullah.
Reaksi internasional cepat menyusul. Amerika Serikat membantu sistem pertahanan Israel dan mengevakuasi personelnya dari kawasan. PBB, Uni Eropa, dan sejumlah negara Timur Tengah menyerukan agar kedua belah pihak menahan diri.
Dengan situasi yang semakin memanas, dunia internasional khawatir konflik ini bisa meluas dan memicu ketidakstabilan global, terutama di kawasan minyak strategis.














