SuaraBogani.com__ Di tengah gempuran ekonomi indonesia yang semakin sulit dan minimnya lapangan pekerjaan,,Ratusan Warga Bekasi berbondong bondong melakukan scan retina mata demi uang ratusan ribu.

Apa saja dampak buruk Scan Retina Mata :
1. Foto Retina Manusia (Fundus Photography)
Foto ini menunjukkan bagian belakang mata (fundus), termasuk retina, saraf optik, dan pembuluh darah. Teknik ini sering digunakan untuk mendeteksi penyakit seperti retinopati diabetik, glaukoma, dan degenerasi makula.
2. Pemindaian Retina untuk Verifikasi Identitas
Gambar ini menampilkan proses pemindaian retina yang digunakan dalam sistem keamanan biometrik untuk verifikasi identitas berdasarkan pola unik pembuluh darah di retina.
3. Pemindaian Retina dalam Konteks e-KTP di Indonesia
Foto ini memperlihatkan penggunaan pemindaian retina dalam proses pembuatan KTP elektronik (e-KTP) di Indonesia, yang bertujuan untuk meningkatkan keamanan dan keakuratan identitas penduduk.
Scan Retina di lakukan oleh tim Worldcoin dengan imblan uang retusan ribu rupiah. Worldcoin (sekarang dikenal sebagai World Network) adalah proyek cryptocurrency dan identitas digital yang didirikan pada tahun 2019 oleh Sam Altman (CEO OpenAI), Max Novendstern, dan Alex Blania melalui perusahaan bernama Tools for Humanity.
Proyek ini bertujuan untuk menciptakan sistem identitas global yang dapat membedakan manusia dari Al melalui pemindaian iris menggunakan perangkat berbentuk bola yang disebut “Orb”. Pengguna yang melakukan pemindaian menerima identitas digital yang disebut World ID dan token kripto WLD sebagai insentif
Scan Retina sangat mempengaruhi data privasi dan Biometrik dari seseorang, Bahkan Kenya sempat melarang operasi Worldcoin pada tahun 2023 karena kekhawatiran keamanan nasional dan privasi.
Sementara, itu beberapa negara seperti Prancis, Jerman, dan Inggris sudah melarang pratik pengupulan data-data yang di lakukan oleh Wordcoin
Risiko keamanan Digital. Pencurian identitas biometrik, Jika sistem Worldcoin diretas, kebocoran data iris akan berdampak permanen karena biometrik tidak bisa diganti seperti password. Potensi pengawasan massal, Adanya ID digital berbasis biometrik yang terhubung ke sistem blockchain dapat memicu kekhawatiran pengawasan global dan pelanggaran hak asasi manusia.
Kurangnya audit independen, Meski mengklaim bersifat terbuka dan terdesentralisasi, pengawasan atas algoritma dan keamanan datanya belum sepenuhnya diaudit secara terbuka oleh pihak netral.
Serta adanya motif keuntungan terselubung, Beberapa kritikus menganggap proyek ini sebagai cara untuk memonopoli identitas digital global dan menambang data untuk tujuan komersial.














